Parkinson, Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat!

Jum'at, 29 Juni 2018

Salah satu tangan sering gemetar, badan jadi kaku, cemas, sulit tidur, bicara pelan, perut kembung, pusing saat perubahaan posisi tubuh, hingga gampang jatuh, merupakan gejala awal penyakit parkinson.

Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif yang menyerang sel saraf di bagian otak yang bernama basal ganglia, yang berfungsi mengontrol gerakan tubuh. Itu sebabnya, gangguan gerakan yang sulit dikontrol menjadi salah satu gejala utama penyakit ini.

Dokter Ahli Saraf dari Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk Jakarta Frandy Susatia mengatakan sel saraf membutuhkan neurotransmitter yang bernama dopamine dan acetylcholine dalam jumlah seimbang agar dapat memberikan sinyal ke sel untuk mengendaikan gerakan tubuh. "Penderita parkinson akan mengalami kekurangan dopamine di dalam tubuhnya," jelasnya. Gangguan gerakan yang sulit dikontrol, misalnya, pada lengan terjadi pada saat diam atau menahan posisi tertentu seperti sedang menggulung pil atau menghitung uang, jari atau tangan bergetar ketika berjalan.

Selanjutnya, pada tungkai atau kaki, biasanya kaki akan tiba-tiba bergoyang saat diam menggantung. Kendati demikian, sekitar 40% penderita parkinson umumnya tak dapat mengenali rasa gemetar (tremor) itu. Selain gemetar, penderita juga mengalami kekakuan sendi. Kondisi ini dapat dikenali pada leher dan lengan.

Pada leher, misalnya, susah menoleh, susah menelan, dan suara mengecil. Lalu pada lengan, seperti tulisan mengecil, ayunan lengan waktu berjalan kurang, sedangkan pada badan, penderita akan merasa sulit bangkit dari tidur atau duduk dan waktu berdiri atau berjalan badan membungkuk. Begitu juga pada tungkai, langkah jalan menjadi pendek-pendek, kaki diseret, dan merasa lemah karena memerlukan tenaga ekstra untuk bergerak. Gejala parkinson lainnya adalah melambatnya seluruh gerak. Kondisi ini dapat dikenali pada wajah dan lengan. Pada wajah umumnya mata jarang berkedip, mimik muka tidak ada ekspresi dan liur menetes.

Lalu, pada lengan dapat terlihat saat memakai baju dan mencuci tangan yang membutuhkan waktu lama. Selain itu, penderita akan kesulitan melangkah dan saat melangkah dapat berhenti mendadak. Gejala lainnya penyakit parkinson adalah gangguan postur tubuh. Penderita biasanya mengalami hal ini saat keadaan lebih lanjut. Kondisi ini mengakibatkan penderita mudah terjatuh, langkah memutar sulit, cenderung terjerembab ke depan atau ke belakang.

Penyakit ini sama dengan alzheimer karena sama-sama menyebabkan pikun, tetapi alzheimer tidak membuatkan pasien sulit bergerak. Usia lanjut Biasanya, penyakit ini menyerang orang usia lanjut dan muncul pada usia 60 tahun. Meski demikian, parkinson juga dapat menyerang di usia produktif terutama pada usia 40 tahun ke atas, yakni sekitar 1% dari kelompok usia di atas 50 tahun, 2% dari kelompok usia lebih dari 70 tahun, dan 3,5% di atas 80-tahun. Selain itu, parkinson juga menyerang lebih banyak pria ketimbang perempuan, dengan persentase sekitar 55% dan 45% perempuan.

Hal ini karena aktivitas laki-laki lebih banyak, faktor genetika dan lingkungan. Faktor penyebab penyakit tersebut, lanjut Frandy, adalah usia, keturunan, infeksi virus, dan paparan bahan kimia berbahaya seperti mangan, karbon disulfida, insektisida, trichlomethylene (TCE) dan pemhloroethylene (PERC) yang merupakan bahan pelarut cat dan lem. Untuk mencegah penyakit parkinson, kata Fandy, adalah dengan menghindari trauma kepala, menghindari senyawa kimia, olahraga teratur, serta makan banyak buah dan sayur yang mengandung antioksidan. Dokter Spesialis Bedah Saraf, Made Agus M. Inggas mengatakan parkinson dapat diatasi dengan konsumsi obat dan operasi. Akan tetapi, pemberian obat jangka panjang akan menjadi kurang efektif dan memiliki efek samping. "Salah satu solusinya adalah operasi stimulasi otak dalam atau deep brain stimulation (DBS). Operasi ini bertujuan merangsang sel dopamin kembali memproduksi dopamin," katanya.

DBS adalah operasi untuk mengatasi tremor, kaku, dan gerak yang lambat. Teknik operasi ini dilakukan melalui penanaman elektroda pada area tertentu di otak bagian dalam. Elektroda tersebut dihubungkan dengan kabel ke baterai yang diletakkan di dalam dada sebagai sumber arus listrik. Rata-rata pasien merasakan peningkatan perbaikan motorik sekitar 75% hingga 87% setelah menjalani operasi tersebut pada keadaan tanpa obat. Sulit diobati Di sisi lain, penyakit parkinson akan sulit diobati pada stadium lanjut.

Frandy menjelaskan ada lima stadium perjalanan penyakit parkinson, yakni untuk stadium pertama dan kedua masih bisa dengan penggunaan obat. Selanjutnya, pada stadium ketiga dan keempat dengan operasi, sedangkan stadium kelima semakin sulit diobati. Pada stadium pertama merupakan stadium yang paling ringan, yakni penderita mulai kesulitan beraktivitas karena adanya gemetar yang berirama dan tak terkendali. Gejala lain adalah postur tubuh memburuk, hilangnya keseimbangan, dan ekspresi wajah abnormal.

Stadium kedua yakni gejala mulai menyebar ke anggota tubuh lainnya yang berpasangan, seperti gemetar pada kedua kaki dan kedua Sisi tubuh. Penderita biasanya kesulitan berjalan dan menjaga keseimbangan, serta makin sulit melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal. Untuk stadium ketiga, penderita sudah tidak mampu berjalan lurus dan berdiri, serta pergerakan tubuh yang melambat. Sementara itu, pada stadium keempat, penderita mengalami kekakuan. Pada tahap ini, penderita tidak mampu mengerjakan aktivitas harian dan tidak dapat mengurus diri sendiri misalnya menulis, mengancingkan baju, dan berdandan.

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu, 22 Mei 2016