Waspadai Kanker Nasofaring

Jum'at, 29 Juni 2018

Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan kasus kanker nasofaring terbanyak dunia. Pria dewasa lebih rentan 2,5 kali lebih tinggi daripada perempuan, seiring bertambahnya usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan kerap terpapar asap.

"Kanker nasofaring tumbuh di area nasofaring. Area itu meliputi rongga belakang hidung atau belakang langit-langit mulut," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik Rumah Sakit Kanker Nasional Dharmais, Asrul Harsal, pada seminar bertema "Pengobatan Paripurna Kanker Nasofaring", Rabu (25/5), di Jakarta.

Menurut Asrul, kanker itu paling banyak muncul pada ras mongoloid dan kasus tertinggi ada di Asia Tenggara. Berdasarkan riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2012, Indonesia ada di posisi ketiga kanker nasofaring terbanyak dengan prevalensi 4-9 pasien per 100.000 orang.

Namun, menurut dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan RS Kanker Dharmais, Cita Herawaty, penanganan medis kanker nasofaring baru mencapai 15 persen dari jumlah total penderita di Indonesia. Padahal, kanker itu menempati posisi keempat kanker terbanyak di Indonesia dengan prevalensi 4-9 penderita per 100.000 orang.

Setiap tahun diperkirakan ada sekitar 500 kasus baru kanker nasofaring. "Kami baru bisa mengambil data dari rumah sakit besar, belum ada studi menyeluruh di Indonesia," kata Cita.

Asrul menjelaskan, kanker nasofaring banyak menyerang laki-laki, yakni pada usia muda, 5-26 tahun, dan pada usia lanjut, 65-79 tahun. Hormon testosteron pada pria menurunkan respons imun sehingga pria rentan infeksi virus Epstein-Bar, penyebab kanker nasofaring.

Cita menambahkan, virus Epstein-Bar meningkatkan antibodi genom virus di tumor. Virus itu banyak ditemukan di rongga mulut manusia dan jadi pemicu kanker nasofaring. Namun, kanker itu juga disebabkan, antara lain, paparan zat kimia, termasuk asap, dan konsumsi makanan mengandung zat pemicu kanker atau karsinogenik. Jenis kanker itu juga dipicu kebiasaan merokok dan minum alkohol berlebihan.

Deteksi dini

"Penting mendiagnosis kanker nasofaring sejak tahap awal agar prognosisnya baik. Perlu diwaspadai gejala seperti pilek berkepanjangan atau mimisan berulang," ujarnya. Gejala kanker nasofaring tak spesifik karena menyerupai pilek atau sinusitis.

Jika kanker sudah membesar, gejala lain akan timbul, misalnya bengkak di leher, pendengaran terganggu, sakit kepala, dan pandangan ganda. "Sekitar 90 persen penyebab bengkak di leher adalah kanker nasofaring. Jika bengkak leher, segera periksakan ke dokter THT agar dibiopsi. Jangan langsung dibedah karena jika kanker diambil, penyebarannya akan lebih cepat," kata Cita.

"Pengobatan kanker nasofaring berupa radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi keduanya. Jenis terapi tergantung stadium pasien," kata dokter spesialis radiasi onkologi dari RS Dharmais Jakarta, Defrizal. Pada stadium awal, biasanya dengan terapi tunggal dan pada stadium lanjut melalui kombinasi kemoterapi dan radioterapi.

Jenis radioterapinya berbeda antara sinar luar dan sinar dalam. "Saat ini, teknologi sudah maju sehingga efektivitas terapi tumor tinggi dan efek samping minimal. Teknologi tiga dimensi memusatkan radiasi di sel kanker dan tak terkena jaringan sehat," kata Defrizal. Angka kelangsungan hidup selama tiga tahun bisa 100 persen jika kanker nasofaring ditangani pada stadium awal.

Selain itu, menurut Cita, kini vaksin kanker nasofaring tengah dikembangkan. "Kini masih tahap satu, yakni pengetesan manfaatnya bagi manusia," katanya.

Untuk mencegah kanker nasofaring, menurut dokter spesialis penyakit dalam RS Dharmais, Hilman Tadjoedin, hal terpenting ialah menjalankan gaya hidup sehat. "Gaya hidup sehat efektif menurunkan risiko kanker," ucapnya.

Menurut konsultan hematologi-onkologi medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Arry Harryanto Reksodiputro, kini penanganan kanker tak hanya fokus pada penyakit, tetapi juga mutu hidup penderita. Jadi, penanganan pasien dilakukan tim dari berbagai disiplin ilmu medis. "Pendekatan pengobatan berpusat pada pasien dan tepat guna," ujarnya.

Sumber : Kompas, Kamis, 26 Mei 2016