Berpuasa Sehat dan Aman bagi Ibu Hamil

Jum'at, 29 Juni 2018

Dokter spesialis kandungan dan kebidanan Siloam Hospitals Lippo Cikarang dr Atik

Purwitaningrum SpOG mengatakan, semua umat muslim diwajibkan berpuasa, kecuali bagi ibu hamil dan menyusui tidak diwajibkan, tapi bisa digantikan dengan membayar fidyah. Namun, bagi ibu hamil yang tetap ingin berpuasa harus memahami bahwa berpuasa hanyalah memindahkan jam makan tanpa harus mengurangi asupan nutrisi yang dikonsumsi. Juga perlu dipastikan kondisi ibu hamil dan janinnya sehat sebelum melakukan puasa dengan berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter.

"Ibu hamil boleh berpuasa penuh selama bulan Ramadan apabila kondisi kesehatan ibu dan janin baik. Pada prinsipnya kebutuhan asupan ibu hamil adalah 2.200-2.300 kalori per hari.

Selama kebutuhan tersebut terpenuhi, tidak ada kendala yang berarti," ungkap dr Atik di sela media gathering di Siloam Hospitals Lippo Cikarang, Bekasi, awal pekan ini. Namun, dr Atik menegaskan, jika ibu hamil muda bermasalah dengan mual dan muntah berlebihan, disarankan menunda keinginan berpuasa. Sebab, asupan nutrisi yang kurang bisa menyebabkan kondisi ibu dan janin semakin lemah.

Sedangkan bagi ibu hamil muda tidak bermasalah, akan dibolehkan menjalankan ibadah puasa setelah dipastikan kondisi ibu dan janin sehat. Pada ibu hamil yang telah memasuki trimester 2 dan 3 dan ingin berpuasa, sebenarnya yang dikhawatirkan dari ibu hamil yang berpuasa adalah kurang nutrisi sehingga janin kekurangan gizi dan tidak berkembang. Jadi, bila kondisi kehamilan sehat dan memperhatikan asupan gizi pada saat sahur dan berbuka, maka diperbolehkan berpuasa.

Untuk itu, dr Atik menyarankan bagi ibu hamil yang berpuasa untuk memastikan minum susu atau es krim dan minuman lain yang cukup agar tidak dehidrasi saat berpuasa. Asupan gizi dan kalori tetap dibuat sama seperti waktu tidak berpuasa, yaitu gizi seimbang dengan komposisi 50% karbohidrat, 30% protein, dan 10-20% lemak. Selama hamil asupan kalori sangat diperlukan sebagai nutrisi untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi dalam kandungan.

"Jadi, bagi ibu hamil sebaiknya lebih memperhatikan asupan makanan yang dimakan saat sahur, berbuka puasa, dan waktu antara berbuka dan sahur," papar dia.

Menurut dr Atik, puasa pada ibu hamil harus dihentikan apabila ibu dengan kehamilan bermasalah, seperti ibu hamil dengan tekanan darah tinggi, kencing manis, dan gangguan pencernaan. Selain itu, puasa segera dihentikan jika ibu hamil terasa pusing, gemetar, mual, dan badan terasa dingin atau kesemutan. Hal itu adalah gejala kadar gula darah menurun. Sebaiknya segera minum air manis hangat untuk segera menaikkan kadar gula dalam darah. Terakhir, puasa segera dihentikan jika mengalami morning sick disertai muntah-muntah yang cukup parah dan sulit masuk makanan.

DM Gestasional

Tak jauh berbeda dengan ibu hamil pada umumnya, lanjut dia, pada ibu hamil yang mengalami Diabetes Militus (DM) gestasional dapat berpuasa walaupun masuk dalam kategori risiko tinggi. Dengan demikian, ibu yang termasuk ke dalam kategori tersebut dianjurkan untuk lebih sering konsultasi.

DM gestasional adalah keadaan intoleransi glukosa yang pertama kali ditemukan pada kehamilan. Salah satu sub tipe dari DM, dimana ibu hamil yang tidak pernah terdiagnosa sebelumnya namun menunjukkan kadar glukosa darah yang tinggi selama kehamilan. Biasanya penyakit ini terjadi pada ibu hamil dan akan pulih kembali setelah melahirkan. Hal itu disebabkan karena insulin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.

"Hormon kehamilan dapat menghalangi insulin untuk menjalankan fungsinya. Akibatnya, level gula darah dalam tubuh menjadi tinggi," ujar dia.

Pada ibu hamil yang mengalami DM gestasional, dr Atik menyebutkan gejala yang timbul adalah pandangan menjadi kabur, mengalami kelelahan, sering mengalami infeksi di saat mengalami luka pada kulit dan vagina. Sering mengalami buang air kecil, mual dan muntah, merasa sering kehausan, penurunan berat badan meskipun nafsu makan meningkat.

Faktor risiko ibu hamil yang mengalami DM gestasional adalah obesitas, riwayat DM sebelumnya, riwayat melahirkan cacat bawaan atau bayi dengan berat badan di atas 4 kg, riwayat melahirkan bayi meninggal tanpa sebab jelas, keguguran berulang, riwayat preklamsia, hamil di atas usia 30 tahun, dan infeksi saluran kemih berulang saat hamil.

Dr Atik menegaskan, komplikasi DM gestasional akan membuat tekanan darah tinggi, preklamsia, dan eklams, serta DM gestasional di kemudian hari pada sang ibu. Untuk bayi, akan terjadi komplikasi seperti bayi lahir dengan berat berlebih, bayi lahir terlalu awal dan sindrom sulit bernapas, kadar gula dalam darah rendah, dan bayi kuning.

"Untuk mencegah terjadinya DM gestasional pada ibu hamil disarankan untuk melakukan pola makan yang sehat dan berolahraga," tegas dr Atik. Dalam menegakkan diagnosa DM gestasional, ibu hamil akan menjalani serangkaian kegiatan. Mulai dari tiga hari sebelum tes penderita mengonsumsi 150 gram karbohidrat setiap hari. Tidak boleh mengonsumsi obat insulin, kortikolsteroid, kontrasepsi oral, estrogen, diuretik, asam salisilat, dan alkohol.

Pagi hari setelah puasa, penderita akan diambil darah vena 5 mg untuk glukosa darah puasa, dan dua jam kemudian diambil sampel darahnya. Jika sudah melewati tahapan tersebut, ibu hamil akan menjalani, diagnosa DM gestasional apabila kadar gula puasa lebih dari 92 mg/dl, kadar gula darah setelah 1 jam lebih dar 180 mg/dl, dan kadar gula darah setelah 2 jam di atas 153 mg/dl.

Sumber : Investor Daily, Sabtu, 04 Juni 2016