Rabu, 6 Maret 2019

CIREBON, (PR).- Rumah Sakit Pertamina Cirebon resmi menjadi Rumah Sakit Pelayanan Terpadu Kesehatan Calon Jemaah Haji dan Umroh (PTKHU) di wilayah III Cirebon.

Peresmian RS Pertamina sebagai PTKHU bersamaan dengan akan difungsikannya Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati untuk embarkasi haji dan umroh, dilakukan oleh Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Luar Negeri (KLN) Kementrian Agama Achmad Gunaryo, Senin, 4 Maret 2019. 

Peresmian juga ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Direktur RS Haji Jakarta Syarief Hasan Lutfie dengan Direktur RS Pertamina Cirebon Richard H. Senduk.

Achmad Gunaryo mengungkapkan, kerja sama dengan RS Pertamina Cirebon menjadi proyek percontohan untuk pelayanan serupa di wilayah lain. Dia mengatakan, pelayanan terpadu merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan pelayanan haji dan umroh.

“Aspek lainnya yaitu kami mencoba mendorong dan mengedukasi calon jemaah haji atau umroh untuk tidak tergantung kepada orang lain, dalam artian bisa mengukur kesanggupannya sendiri,” katanya.

Menurutnya, dengan pelayanan dalam aspek edukasi, nantinya tidak akan ada lagi anggapan, calon jemaah dilarang haji karena tidak sehat.

“Dengan pelayanan terpadu dan kemampuan calon jemaah dalam mengukur kesanggupannya sendiri, tidak akan lagi muncul pernyataan, saya dilarang haji karena saya tidak sehat, namun berganti menjadi karena memang saya merasa saya tidak sehat,” katanya.

One stop service

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamedika IHC Dani Amrul Ichdan mengungkapkan, PTKHU dipersiapkan untuk melayani calon jemaah haji dan umroh dengan layanan one stop service. Diharapkan, bisa mempermudah calon jemaah haji dan umroh dalam memeriksa kesehatannya.

Layanan one stop service, katanya, dimungkinkan karena RS Pertamina Cirebon yang merupakan salah satu unit usaha PT Pertamina Bina Medika IHC, memiliki fasilitas cukup lengkap di wilayah Cirebon.

“PTKHU bukan hanya melakukan pengecekan fisik dan kesehatan calon jemaah haji dan umroh, tetapi juga menyediakan layanan konsultasi, pengecekan kesehatan, hingga terapi untuk meningkatkan daya tahan fisik para calon jemaah haji atau umroh, sehingga mampu melaksanakan ibadah haji dengan optimal,” katanya.

Menurutnya, salah satu persyaratan penting berhaji adalah istithaah atau mampu berhaji. Bukan saja secara finansial tetapi juga fisik.

“Kebanyakan jemaah haji Indonesia adalah lanjut, yang rata-rata memiliki penyakit degeneratif,” ucapnya.

Meskipun demikian dalam prakteknya nanti, dilanjutkan Dani, setiap calon jemaah haji dan umroh yang mengalami kondisi kesehatan yang buruk, tidak akan buru-buru divonis tidak dapat berangkat haji atau umroh. 

“PTKHU akan melakukan pengecekan dan terapi untuk meningkatkan daya tahan sehingga diharapkan pada saat berangkat dalam kondisi prima,” katanya.

Bila belum mencapai syarat istithaah, segera dilakukan terapi, apabila kondisinya sudah bagus maka akan diberikan latihan-latihan yang bertujuan menjaga kestabilan kondisi.***